Pandang tuh masa depan, mulai dari detik ini, apa keinginanmu… Itu teriakan dari kata hati seorang wanita, tetapi kenapa merasa suram yaa? Sebagai manusia yang hidup berpasangan menyongsong hari esok yang lebih baik adalah suatu kewajiban untuk didiskusikan berdua, yah karena status sudah bukan single alias mementingkan kepentingan pribadi adalah urutan kesekian.Kenapa suram wahai wanita yang hatinya sedang menjerit ? Semestinya hidup berpasangan tidak harus ada yang merasa tertekan, bukan juga sebagai pasutri itu membicarakan tuntutan. Semua hal bisa dibicarakan apabila bisa jadi pendengar yang baik semenit saja masuk kedalam telinga, mengendap pada memori di kepala dan akhirnya dicerna untuk dipikirkan. Mengapa hanya karena seseorang sepuh menasehati ditanggapin dengan perasaan tertekan? Mengapa menjadi salah arti bila pasanganmu ingin membicarakan masa depan buah hati yang telah diamanahkan, dianggap suatu tuntutan bagimu yang selalu dirasa begitu berat..? Atau salah bahasakah dalam penyampaian itu semua? Atau masih kurang sabar dan mengerti harus bersikap bagaimana?Yang ada suasana selalu mencekam bila mencoba mengutarakan masa depan, keinginan, dan perbuatan. Karena apa ??? karena seorang itu selalu memperbesar masalah kecil. Pada akhirnya tidak pernah mau disalahkan. Bisa tidak mendengar, mencerna dan memikirkan dahulu apa yang orang kan utarakan? Bisa tidak untuk STOP mengeluh dan tidak membawa suasana hati menjengkelkan menjadi pertunjukan obral besar di depan keluarga? Dan Bisa tidak untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang semestinya dipikirkan dahulu baik-baik makna penyampaiannya menyakitkan atau tidak ? Seperti NATO No Action Talk Only, kan lebih baik Talk Less Do More ya ?Wanita penjerit mengucapkan Maaf Tuhan, harus mengeluh dan sempat kehilangan iman sementara untuk berpikir bunuh diri, melupakan kodrat yang Engkau berikan, Maaf Tuhan telah khilaf melupakan sejenak amanah-Mu, Maaf kepada orang tua hampir mengecewakan dan kesekian kalinya membuat sedih hati sesepuh.Tapi inilah yang dirasakan wanita penjerit, semakin lama semakin mendekati Bom Waktu saja, tiada ada rasa nyaman, tiada ada kemesraan, semoga kebahagian tidak menjauh lagi, sementara hati selalu merasa tidak cocok atas sikap, prilaku, logika berpikir, bicara, pengambilan keputusan atas segala sesuatu, dan spritual kepercayaan yang dijalanin, merasa tidak ada batasan tanggung jawab untuk dipercaya berprilaku dalam berteman. RASA MATI MAAF (baca dari kanan ke kiri). Lihat saja, bom waktu ini bisa meledak suatu waktu atau bisa tidak meledak karena telah dijinakkan. Sang Kuasa Yang Tau Jawabannya.
0 komentar:
Poskan Komentar